Pilih Halaman

Pameran Universal Iteration oleh Komunitas Salihara

oleh | 27 Mei,21 | Hiburan, Seni Budaya

Jakarta, Semarak News – Dalam merespon perkembangan dinamika global terkini, Komunitas Salihara kembali berencana mewujudkan gelaran seni bertajuk Universal Iteration “Festival Media Berkala dalam Jaringan” yang akan diselenggarakan mulai 22 Mei hingga 6 November 2021.

Pameran Universal Iteration menampilkan karya-karya seni rupa yang sepenuhnya memang diproduksi dan hendak ditujukan untuk ditonton para pemirsa secara daring. Pameran virtual ini mengajak kita menikmati pengalaman baru dalam mengapresiasi bentuk seni rupa berbasis digital.

Kita bisa menyaksikan karya-karya berbasis digital dari para seniman seperti Bandu Darmawan, Blanco Benz Atelier, Farhanaz Rupaidha, House of Natural Fiber & Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Mira Rizki Kurnia, Natasha Tontey, Riar Rizaldi, Tromarama.

Pameran Universal Iteration dilatarbelakangi oleh pemanfaatan teknologi mutakhir yang telah melebar sampai ke kebutuhan tersier manusia, misalnya dalam ranah artistik. Beragam individu dan kelompok berlomba-lomba menampilkan pameran, pertunjukan, festival seni sampai diskusi dan seminar secara daring.

Bob Edrian selakukurator pameran ini mengatakan bahwa “iterasi (perulangan) yang dilakukan secara bersama-sama untuk membuka alternatif-alternatif terbaik atas segala bentuk upaya artistik yang sebelumnya hampir selalu dilakukan dalam dunia fisik. Iterasi dengan harapan mencapai kesepakatan universal.”

Baca Juga  Belajar Menulis Kreatif melalui Program Kelas Menulis Kreatif oleh Komunitas Salihara

Spektrum karya-karya para seniman berbasis digital yang dipamerkan dalam Universal Iteration tidak hanya mengangkat isu-isu yang luas, tetapi juga akan memantik pembicaraan terkait teknologi dan kesadaran internet itu sendiri. Para seniman yang berpameran adalah:

Bandu Darmawan beberapakali menggunakan idiom dan cara kerja video game dalam beberapa karyanya. Ia pernah menampilkan karya interaktif dalam Pekan Kebudayaan Nasional akhir tahun lalu. Dengan memanfaatkan platform Unity, ia menawarkan karya interaktif yang memungkinkan pengunjung untuk memilih sendiri “jalan cerita’ di dalam karyanya.

Blanco Benz Atelier terdiri atas tiga seniman muda: Jeffi Manzani, William Samosir, dan Yura Kenn Kusnar. Blanco Benz Atelier menyelenggarakan pameran bersama yang mengangkat pemanfaatan manipulasi digital, kemampuan algoritmageneratif dan kecerdasan buatan (artificialintelligence) untuk menciptakan karya seni pada tahun 2018. Dalam pameran tersebut mereka memandang bahwa perkembangandan pemanfaatan algoritma dapat memicu keterbukaan beragam kemungkinan artistik yang baru.

Farhanaz Rupaidha adalah seorang seniman yang banyak mengeksplorasi algoritmageneratif berbasis interaksi. Salah satu karyanya pernah dipresentasikan dalam Festival Seni Media Internasional Instrumenta#2: Machine/Magic. Khas karyanya adalah mempertanyakan hubungan “tidak terlihat” antara perkembangan teknologi digital dengan lingkungan. Bagaimana transaksi dan sirkulasi data digital menciptakan gangguan-gangguan fisik bagi alam sekitar.

Baca Juga  Komunitas Salihara Kembali Selenggarakan Gelaran Helatari

House of Natural Fiber & Institut Teknologi Telkom Purwokerto adalah kolektif yang membangun sebuah instalasi tentang kemungkinan terjadinya ekosistem kehidupan yang organik. Karya instalasi ini akan ditanggapi oleh beberapa seniman dalam format pertunjukan yang disorot dan ditampilkan dalam fitur kamera 360 Youtube, sehingga pengunjung dapat leluasa menjelajahi keseluruhan instalasi beserta pertunjukan dan area di sekitar karya.

Mira Rizki Kurnia meraih gelar sarjananya di Fakultas Seni Rupa dan Desain studio Seni Intermedia di Institut Teknologi Bandung. Ia memulai karier sebagai seniman media baru yang kerap kali menggunakan medium bunyi beserta interaktivitas bunyi-bunyi keseharian. Selama pandemi, ia menelusuri beragam obyek untuk dibunyikan dan dikomposisikan. Pengalaman mengolah bebunyian tersebut ia bagikan melalui website dimana pengunjung bisa memilih sendiri bebunyian mana yang akan dimainkan, dan diharmonisasikan dengan bunyi lainnya.

Natasha Tontey adalah seorang seniman yang juga berprofesi sebagai desainer grafis dan pengembang situs web. Karya-karyanya banyak menekankan aspek spekulatif dan imajinatif pada masa depan melalui penelusuran-penelusuran yang bersifat lokal. Dalam sebuah karyanya ia mengumpulkan ramalan-ramalan dari pertemuannya dengan dukun atau paranormal. Ramalan-ramalan tersebut kemudian ia tuangkan dalam karya instalasi dan gambar bergerak.

Baca Juga  Mengenang Rahayu Supanggah

Riar Rizal adalah seorang seniman yang banyak memanfaatkan media film sebagai karyanya. Salah satu karyanya mengangkat material timah sebagai unsur alam yang menopang teknologi. Adapun karya terbarunya mengangkat peran penting Stasiun Radio Malabar pada masa lalu dalam memahami peran alam terhadap akselerasi teknologi. Eksplorasi medium film yang ia kerjakan banyak ditampilkan dalam format film dokumenter.

Tromarama banyak mengangkat gagasan algoritma media sosial dan perilaku penggunanya dalam karya-karya instalasi. Mereka mengumpulkan dan mempresentasikan ulang data-data yang disaring dengan menambahkan konteks spesifik. Mulai dari menyaring tagar di platform Twitter hingga data prakiraan dan perubahan cuaca untuk menghasilkan visualisasi-visualisasi tertentu.

Untuk mengetahui detail pertunjukan sila kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter@salihara | Instagram@komunitas_salihara

(DK)



Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments